Tonggak Sejarah
Tonggak Sejarah
Awal Perintisan di Bogor
Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik (BBKKP) memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya hingga menjadi lembaga yang dikenal saat ini. Awal mula lembaga ini dirintis di Bogor pada tahun 1927 dengan nama Leerlooierij in Lederbewerking Stichting met Het Laboratorium Voor Lederbewerking en Schoenmakerij is een Van Drie Centrale Nijverheidsscholen voor Lichting: Departement van Economische Zaken yang dipimpin oleh Cavalini sebagai Direktur.
Pemindahan ke Yogyakarta
Pada tahun 1937, Departement van Economische Zaken memutuskan untuk memindahkan instansi tersebut ke Yogyakarta, tepatnya di Tugu Kulon. Oey Ong Ham diangkat sebagai Wakil Direktur mendampingi Cavalini. Berita pemindahan Laboratorium Voor Leder ini dimuat di berbagai surat kabar seperti De Indische Courant (1 Mei 1937), Nederlandsch Indie (11 Desember 1937), dan Soerabaijasch Handelsblad (15 Desember 1937).

Berita pemindahan Laboratorium Voor Leder dari koran De Indische Courant (01/05/1937), Nederlandsch Indie (11/12/1937), dan Soerabaijasch Handelsblad (15/12/1937)
Perkembangan Awal pada Masa Pasca Kemerdekaan Indonesia
Pada masa awal kemerdekaan tahun 1945, Laboratorium Voor Leder diambil alih oleh Pemerintah Indonesia di bawah Kementerian Perekonomian dan diubah namanya menjadi Balai Penyelidikan Kulit dengan Amir Husin Siregar sebagai Kepala Balai. Setelah berakhirnya kekuasaan Belanda dan penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia tahun 1950, pembangunan nasional dimulai, terutama pada sektor industri dalam negeri.
Sebagai negara agraris, Indonesia perlu membangun sektor industri untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Pembangunan industri dinilai penting karena hanya negara yang telah memasuki struktur industrialistis yang dapat mempercepat peningkatan living standard masyarakatnya. Untuk itu, kegiatan penelitian industri (industrial research) digiatkan secara bertahap, dimulai dari yang sederhana hingga menuju mekanisasi dan penyempurnaan.
Yogyakarta sebagai ibu kota revolusi tahun 1950 menjadi pusat berbagai kegiatan research industri, termasuk Balai Penyelidikan Kulit yang pada awalnya hanya memiliki satu ruangan kerja dan enam pegawai. Pasca perang kemerdekaan, kegiatan penelitian mengalami kendala besar karena minimnya peralatan laboratorium.
Awal Produktivitas dan Memulai Penelitian Kulit
Baru pada tahun 1951, setelah adanya tambahan pegawai terampil dan fasilitas, kegiatan penelitian mulai aktif kembali meski dengan peralatan sederhana. Saat itu, Balai Penyelidikan Kulit berada di bawah Jawatan Perindustrian, Kementerian Perekonomian. Dengan peralatan seadanya, balai ini mampu memproduksi berbagai jenis kulit seperti box, ecrace, suede, dan chamois, serta melakukan penelitian pada proses penyamakan nabati, mineral, dan minyak tak jenuh.
Masa Reorganisasi
Pada tahun 1956, balai ini berada di bawah Jawatan Balai-Balai Penyelidikan dan Pendidikan, Kementerian Perindustrian.
Peningkatan Fasilitas Penelitian
Tahun 1957, aktivitas balai semakin meningkat dengan kedatangan berbagai mesin physical testing seperti:
- Abrasion Strength Tester: untuk menguji ketahanan aus kulit sol (sol sepatu),
- Schopper Machine: untuk mengukur tensile strength kulit lapis atau atasan,
- Crockmeter: untuk menguji rubfastness dari pigment finish pada kulit,
- Bending Strength Tester: untuk mengetahui kekuatan lentur kulit box, chevreaux, dan suede bagi kebutuhan sepatu.
Selain itu, juga datang mesin besar untuk Pilot Plant seperti sok leather embossing machine, sammying machine, dan dua diesel generator.

Pilot Plant
Perintah Baru
Berdasarkan Undang-Undang RI Nomor 85 Tahun 1958 tentang Rencana Pembangunan Lima Tahun 1956–1960, Balai Penyelidikan Kulit memiliki tugas memajukan industri melalui pemberian nasihat teknis, peningkatan mekanisasi, dan peningkatan mutu teknologi melalui pemeriksaan bahan, penyelidikan, penyuluhan, serta pendidikan teknis.

P.N.P.R NUPIKSA YASA, Gedung Balai Penjelidikan Kulit, Semaki, Yogyakarta
Transformasi Lembaga
Pada tahun 1960, status Djawatan berubah menjadi Institut Teknologi dan Pendidikan di bawah Departemen Perindustrian Rakyat.
Perubahan Status
Di tahun 1961, lembaga ini menjadi Perusahaan Negara Urusan Penelitian, Pembinaan, dan Pendidikan dengan nama PN.PR. Nupiksa Yasa, dan Balai Penyelidikan Kulit menjadi salah satu unitnya. Berdasarkan SK BPU PNPR No.142/Sek/BPU/61 tanggal 16 Juli 1961, nama lembaga resmi menjadi Balai Penelitian Kulit berstatus PN di bawah PN.PR. Nupiksa Yasa.
Perubahan Nama dan Status
Pada tahun 1980, melalui SK Menteri Perindustrian No. 218/M/SK/6/1980 tanggal 5 Juni 1980, nama dan status lembaga berubah menjadi Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit, Karet, dan Plastik.

Gedung Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit, Karet dan Plastik
Penetapan Nama Resmi BBKKP
Pada 6 Desember 1995, Departemen Perindustrian digabung dengan Departemen Perdagangan menjadi Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Depperindag). Struktur organisasi BBKKP tidak mengalami perubahan. Berdasarkan SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.783/MPP/Kep/11/2002, nama lembaga resmi menjadi Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik (BBKKP).
Pemisahan Depperindag
Tahun 2006, kedua departemen tersebut dipisah kembali, dan BBKKP berada di bawah Departemen Perindustrian sesuai SK Menperin No.45/M-IND/PER/6/2006.
Transformasi ke Kementerian Perindustrian
Melalui Peraturan Presiden No.47 Tahun 2009, Departemen Perindustrian berganti nama menjadi Kementerian Perindustrian, namun struktur BBKKP tetap sama.

Gedung Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Industri Barang Kulit, Karet dan Plastik
BBKKP di Bawah BPKIMI
Perubahan berikutnya terjadi tahun 2010 berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian No.105/M-IND/PER/2010, di mana BBKKP berada di bawah Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim, dan Mutu Industri (BPKIMI) tanpa perubahan tugas pokok dan fungsi.
Perubahan BPKIMI menjadi BPPI
Terbit Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2015 tentang Kementerian Perindustrian, Badan Pengkajian Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri (BPKIMI) berubah menjadi Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI). Sehingga, BBKKP sekarang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) dengan tanpa mengalami perubahan tugas pokok dan fungsi.
Transformasi ke BSKJI
Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 2020 tanggal 6 November 2020 tentang Kementerian Perindustrian, Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) berubah menjadi Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI). Sehingga, BBKKP sekarang berada di bawah Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI) dengan tanpa mengalami perubahan tugas pokok dan fungsi. 2020.
Era Baru BBSPJIKKP
Transformasi terakhir terjadi pada 17 Februari 2022 melalui Peraturan Menteri Perindustrian No.1 Tahun 2022 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan BSKJI. BBKKP bertransformasi menjadi Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik (BBSPJIKKP). Meskipun demikian, nama BBKKP masih tetap digunakan secara umum. Transformasi ini juga mencakup perubahan struktur organisasi yang kini lebih ramping, dengan fungsi penelitian dan perekayasaan ditiadakan, serta unit di bawah kepala balai terdiri dari Bagian Tata Usaha dan Kelompok Jabatan Fungsional.
Kepala Balai dari Masa ke Masa
Selama kurun waktu 66 tahun sejak tahun 1953 telah terjadi perubahan Pimpinan Balai sebanyak sembilan kali.











Hagung Eko Pawoko, S.T.P., M.Sc. resmi menjabat sebagai Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kulit, Karet, dan Plastik sejak 31 Maret 2023 menggantikan Bapak Agus Kuntoro. Sebelumnya Beliau pernah menjabat sebagai Pejabat Fungsional Widyaiswara (2012-2023) di Balai Diklat Industri (BDI) Yogyakarta dan Pelaksana di instansi yang sama (2006-2012).